Bocah Angon menurut Ugo Wangsit Siliwangi
Wangsit Siliwangi :
Suatu saat nanti, apabila tengah malam
terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya.
Suatu saat nanti, apabila tengah malam
terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya.
Sosok Satrio Piningit memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri. Alhasil ada yang yakin telah menemukannya, bahkan juga ada yang mengaku dirinyalah si Satrio Piningit tersebut. Apabila diteliti maka sosok yang telah ditemukan itu masih bisa diragukan apakah memang dia si calon Ratu Adil ?
Keragu-raguan yang muncul mendorong untuk
menelaah dan mempelajari kembali apa yang telah diungkapkan dalam
naskah-naskah leluhur mengenai sosok Satrio Piningit sejati. Salah satu
naskah yang biasa kita gunakan sebagai rujukan yaitu Ugo Wangsit Siliwangi.
Siliwangi dalam Ugo Wangsitnya menyebut si calon Ratu Adil dengan
sebutan Bocah Angon atau Pemuda Penggembala. Beberapa hal yang
disebutkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi mengenai Bocah Angon yaitu :
1. Suara minta tolong.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné.” Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan Joyoboyo dalam bait 169 yaitu “senang menggoda dan minta secara nista, ketahuilah bahwa itu hanya ujian, jangan dihina, ada keuntungan bagi yang dimintai artinya dilindungi anda sekeluarga“.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné.” Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan Joyoboyo dalam bait 169 yaitu “senang menggoda dan minta secara nista, ketahuilah bahwa itu hanya ujian, jangan dihina, ada keuntungan bagi yang dimintai artinya dilindungi anda sekeluarga“.
Bocah Angon di awal kemunculannya akan
beraksi melakukan hal-hal sebagai pertanda kedatangannya. Salah satunya
adalah meminta tolong kepada orang di sekitar daerah Gunung Halimun.
Tidak jelas mengapa dia minta tolong kepada orang lain, apakah dia dalam
kesulitan ataukah keperluan lainnya. Yang pasti bila telah terjadi hal
demikian berarti itu pertanda akan kemunculannya.
Sementara dikaitkan dengan Ramalan
Joyoboyo paba bait 169 disebutkan bila Bocah Angon tersebut “suka minta
secara nista sebagai ujian”. Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa minta tolong itu hanya sebatas ujian bagi yang dimintai pertolongan. Ujian apakah itu? belum diketahui ujian apa yang suka dilakukan Bocah Angon pada orang. Sebaiknya kita tunggu saja kejadiannya.
2. Mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala.” Kata terlanjur dilarang ini apa maksudnya? Apakah dilarang dalam mengungkap fakta-fakta, ato dilarang meluruskan sejarah? sepertinya masih butuh penafsiran lagi.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala.” Kata terlanjur dilarang ini apa maksudnya? Apakah dilarang dalam mengungkap fakta-fakta, ato dilarang meluruskan sejarah? sepertinya masih butuh penafsiran lagi.
Yang pasti Bocah Angon sepertinya tidak
peduli dengan larangan pemimpin. Bahkan bukan hanya tidak peduli dengan
larangan tersebut, tetapi lebih dari itu Bocah Angon melawan larangan si
pemimpin itu sambil tertawa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan
si pemimpin bila dilawan sambil tertawa. Bisa-bisa Bocah Angon dalam
situasi bahaya nih karena kerjanya selalu melawan sang pemimpin
pengganti.
Kata banyak yang ditemui sebagian-sebagian karena terlanjur dilarang pemimpin baru, menunjukkan bahwa yang
akan ditemukan masyarakat memang hanya sebagian saja. Oleh karena
sebagian saja maka yang ditemukan tersebut belumlah lengkap dan tentunya
belum sempurna hasilnya. Tetapi tidak bagi Bocah Angon, dia
terus saja mencari sambil melawan. Bisa jadi temuan si Bocah Angon ini
kelak merupakan temuan yang paling lengkap dan mendekati kebenaran.
3. Dia gembalakan ranting daun kering dan sisa potongan pohon.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”
Bocah Angon memiliki kebiasaan mengumpulkan daun dan ranting. Kata daun dan ranting yang disebutkan Ugo Wangsit Siliwangi dalam bahasa asli Sundanya yaitu “Kalakay jeung Tutunggul“.
Kalakay merupakan daun lontar yang biasa digunakan oleh orang kita pada
jaman dulu kala sebagai lembaran daun untuk menulis. Sementara
Tutunggul merupakan ranting pohon yang biasa digunakan orang kita pada
jaman dulu kala sebagai pena untuk menulis. Sehingga Kalakay dan
Tutunggul bisa diartikan sebagai kertas dan pena.
Si Bocah Angon ini memiliki kegemaran suka menggembalakan kertas dan pena.
Dia terus mengumpulkan dan mengumpulkan kedua barang tersebut sebagai
gembalaannya. Tidak jelas kenapa dia suka menggembalakan kertas dan
pena. Kata mengumpulkan itu berarti kertas dan pena tersebut tidak hanya
1 buah, tetapi jumlahnya banyak dan itu menjadi barang kegemarannya.
Selanjutnya disebutkan “Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian“.
Kalimat tersebut bisa berarti bahwa Bocah Angon menggembalakan kertas
dan pena untuk menemukan sejarah dan kejadian. Ntah sejarah dan kejadian
apa yang dia kumpulkan, tetapi bisa dimengerti bahwa di Nusantara
banyak sekali sejarah yang dirubah, mungkin hal tersebut bisa juga
terkait dengan pelurusan sejarah kita.
Dia akan terus mengumpulkan sejarah dan
kejadian-kejadian penting tentunya untuk menyelesaikan masalah di
Nusantara. Wajar saja bila sejarah ditelusuri karena memang untuk
menyelesaikan suatu masalah tidak bisa tidak harus mengetahui awal
sejarahnya bagaimana bisa terjadi. Dengan kegemarannya menelusuri
sejarah dan kejadian yang dituangkan dalam kertas dan pena tersebut
kelak masalah di Nusantara akan bisa dibereskan dengan mudah. Semoga.
4. Rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu”. Kata di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara rumah dengan sungai tersebut. Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai, tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu”. Kata di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara rumah dengan sungai tersebut. Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai, tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.
Siliwangi juga tidak menyebutkan nama
dari sungai tersebut sehingga rada menyulitkan untuk menentukan letak
sungainya. Di Jawa terdapat banyak sekali sungai membentang dari utara
hingga selatan. Dan rata-rata di pinggir sungai terdapat banyak rumah
penduduk dan ini tentunya sangat menyulitkan untuk menentukan letak
sungainya yang sesuai kata Siliwangi. Namun yang pasti Bocah Angon
rumahnya dekat sungai sehingga bila ada yang mengaku dirinya Bocah Angon
tetapi rumahnya jauh dari sungai berarti itu tidak sesuai dengan Ugo
Wangsit Siliwangi.
Kemudian untuk kata pintunya setinggi
batu masih perlu dipertanyakan, apakah atap rumahnya terbuat dari batu?
dan juga apakah pintu rumahnya juga terbuat dari batu? kok seperti rumah
nenek moyang kita dulu. Bisa jadi demikian tetapi mungkin juga tidak
demikian.
Kalimat tersebut bisa dipahami bahwa
rumah Bocah Angon tidak hanya 1 lantai, namun bertingkat rumahnya. Hal
ini diperkuat dengan ungkapan Joyoboyo pada bait 161 yaitu “berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga“. Dari ungkapan Joyoboyo menunjukkan ada 3 lantai rumah dari Bocah Angon.
Tentunya bukan rumah biasa, bisa jadi rumah tingkat ekonomi menengah
atau memang Bocah Angon dari keluarga kaya? belum bisa dipastikan.
Oleh karena untuk membuat suatu rumah yang bertingkat dengan bahan semen untuk lantai 2nya, maka dari bahan semen yang padat otomatis akan membentuk batu yang keras.
Sehingga bisa dipahami bila pintu lantai pertama akan setinggi batu
(setinggi cor semen lantai 2). Memang kebanyakan rumah orang yang
bertingkat pintunya pasti akan setinggi lantai 2, tepat di bawah cor
semen yang telah menjadi batu tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rumah Bocah Angon memang bertingkat yang pintunya setinggi lantai
tingkat 2nya.
5. Tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang”. Kata rimbun oleh pohon Handeuleum dan Hanjuang berarti di depan rumah Bocah Angon terdapat 2 pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya. Dalam hal ini hanya disebutkan 2 buah pohon saja, artinya memang hanya ada 2 buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang”. Kata rimbun oleh pohon Handeuleum dan Hanjuang berarti di depan rumah Bocah Angon terdapat 2 pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya. Dalam hal ini hanya disebutkan 2 buah pohon saja, artinya memang hanya ada 2 buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.
Apabila ditelusuri kedua jenis pohon
tersebut dalam istilah bahasa Indonesianya memang belum diketahui apa
namanya. Kedua kata tersebut sepertinya bahasa kuno dari daerah Sunda
tempat Siliwangi berada. Hingga kini belum ada pihak yang merasa
mengetahui kedua jenis pohon tersebut. Bahkan orang-orang asli Sundapun
juga mengaku tidak mengetahui kedua jenis pohon itu. Kita tunggu saja
kelak akan kita ketahui juga.
Sementara itu beberapa kalangan justru
menafsirkan kata Handeuleum dan Hanjuang sebagai simbol saja. Benarkah
kedua pohon itu sebenarnya bukan pohon hidup di atas tanah, tetapi
sekedar simbol saja? Coba anda lihat kembali Siliwangi menyebut Pemuda
Penggembala dengan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan
domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering
dan sisa potongan pohon.”
Kata pemuda penggembala itu cuma simbol
dari Siliwangi. Kemudian simbol tersebut dijelaskan bila yang
digembalakan bukan binatang, tetapi daun dan ranting. Sementara kata Handeuleum dan Hanjuang tidak ada kalimat penjelasan selanjutnya.
Sehingga kedua kata tersebut dapat dipastikan memang dua buah pohon
yang tumbuh di atas tanah. Apabila simbol tentunya Siliwangi akan
menjelaskan maksudnya.
6. Pergi bersama pemuda berjanggut.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Siapakah pemuda berjanggut itu? Penyebutan pemuda berjanggut ini masih perlu dipertanyakan. Apakah pemuda tersebut merupakan kerabat atau keluarga atau teman ataukah pengasuh si Bocah Angon? Belum jelas diketahui karena memang dalam Ugo Wangsit Siliwangi tidak menyinggung mengenai hal tersebut.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Siapakah pemuda berjanggut itu? Penyebutan pemuda berjanggut ini masih perlu dipertanyakan. Apakah pemuda tersebut merupakan kerabat atau keluarga atau teman ataukah pengasuh si Bocah Angon? Belum jelas diketahui karena memang dalam Ugo Wangsit Siliwangi tidak menyinggung mengenai hal tersebut.
Dalam naskah-naskah lain memberitahukan
bahwa Ratu Adil memiliki pengasuh yaitu Sabdo Palon. Mungkinkah pemuda
berjanggut tersebut adalah Sabdo Palon? Sepertinya tidak karena Sabdo
Palon merupakan sosok Jin, sementara penyebutan kata pemuda menunjukkan
dia adalah manusia. Jadi pemuda berjanggut bukanlah Sabdo Palon.
Misteri ini masih sulit untuk diungkap
yang sebenarnya. Pada saat Bocah Angon masih menjadi sosok yang misteri,
pada saat yang sama pula ada sosok lain yaitu pemuda berjanggut yang
jati dirinya juga masih misteri. Namun yang pasti pemuda tersebut
memiliki janggut dan kelak akan kita ketahui setelah tiba waktu
kemunculan Bocah Angon.
7. Pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Bocah Angon sepertinya tidak akan ditemukan sebelum kemunculannya. Ketika orang-orang sudah menemukan rumahnya yang di ujung sungai, dia telah pergi bersama pemuda berjanggut ke Lebak Cawéné.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Bocah Angon sepertinya tidak akan ditemukan sebelum kemunculannya. Ketika orang-orang sudah menemukan rumahnya yang di ujung sungai, dia telah pergi bersama pemuda berjanggut ke Lebak Cawéné.
Siliwangi tidak menyebutkan kemudian
orang-orang akan berhasil menemukan Bocah Angon di Lebak Cawéné setelah
gagal menemukan di rumahnya. Tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo
Wangsit Siliwangi. Karena tidak ada kata itu maka bisa disimpulkan bahwa
jarak antara rumah dengan Lebak Cawéné tidak dekat bahkan mungkin
sangat jauh.
Siliwangi juga tidak menyebutkan setelah pergi ke Lebak Cawéné si Bocah Angon kemudian kembali lagi ke rumahnya.
Karena tidak ada kalimat yang menyebutkan hal tersebut berarti Lebak
Cawéné merupakan tempat baru yang ditinggali Bocah Angon setelah
rumahnya yang di ujung sungai di tinggal pergi. Apabila Bocah Angon
kembali lagi ke rumahnya yang di ujung sungai, maka tentunya Siliwangi
akan menyebutnya berhasil ditemukan di rumahnya. Sudah pasti bila orang
telah menemukan rumahnya maka akan ditunggui kapan kembalinya. Tetapi
ternyata tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi.
Sampai saat ini belum diketahui dimana
letak Lebak Cawéné berada. Dalam peta Jawa maupun peta Indonesia, tidak
ada daerah yang diberi nama Lebak Cawéné. Oleh karena namanya yang masih
asing inilah maka banyak kalangan menafsirkan menurut keyakinannya
masing-masing.
Ada yang menafsirkan Lebak Cawéné berada
di lereng sebuah gunung. Ada juga yang mengatakan berada di petilasan
Joyoboyo. Yang lain mengatakan berada di tempat yang ada guanya dan
sebagainya membuat semakin tidak jelas saja letak Lebak Cawéné dimana.
Tetapi apabila anda meyakini sebuah tempat merupakan Lebak Cawéné, maka bisa dipastikan anda akan memaksakan kehendak untuk menentukan 1 orang di daerah tersebut sebagai calon Ratu Adil. Wah jadi kasian pada orangnya kena sasaran.
Ketahuilah bahwa Siliwangi tidak menyebutkan Bocah Angon akan berhasil ditemukan di Lebak Cawéné.
Di sisi lain Siliwangi juga tidak memberikan ciri-ciri Lebak Cawéné
yang dia katakan sehingga mustahil Lebak Cawéné bisa diketahui sebelum
Ratu Adil muncul, kecuali anda lebih sakti dari Siliwangi. Kemampuan
sama dengan Siliwangi aja tidak mungkin apalagi lebih tinggi dari
Siliwangi, jelas tidak mungkin lagi.
8. Gagak berkoar di dahan mati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati”. Kata Gagak berkoar mungkinkah memang burung Gagak yang suka berkicau, ataukah itu merupakan simbol saja.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati”. Kata Gagak berkoar mungkinkah memang burung Gagak yang suka berkicau, ataukah itu merupakan simbol saja.
Banyak kemungkinan mengenai Gagak berkoar
tersebut. Namun dalam naskah-naskah lain seperti yang diungkap
Ronggowarsito dan Joyoboyo bahwa Bocah Angon sebelum menjadi Ratu Adil
hidupnya menderita, dia sering dihina oleh orang. Apabila dikaitkan
dengan hal tersebut maka Gagak berkoar itu bisa juga diartikan sebagai
orang-orang yang suka menghina si Bocah Angon.
Oleh karena hidupnya yang selalu saja
dihina orang, maka akhirnya Bocah Angonpun pergi meninggalkan rumahnya.
Kemudian dia bersama pemuda berjanggut menuju ke Lebak Cawéné untuk
membuka lahan baru disana. Semua mencari tumbal bisa saja
diartikan sebagai mencari berita dan ketika yang dicari si Bocah Angon
sudah tidak ada, maka tidak bisa tidak mencari berita dari para Gagak
yang berkoar tersebut.
9. Ratu Adil sejati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.” Kita disuruh Siliwangi untuk mencari Bocah Angon, karena dialah yang kelak akan menjadi Ratu Adil sejati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.” Kita disuruh Siliwangi untuk mencari Bocah Angon, karena dialah yang kelak akan menjadi Ratu Adil sejati.
Sepertinya SIliwangi bermaksud memberikan
pesan untuk berhati-hati dalam mencari Bocah Angon. Hal ini dikarenakan
banyak sekali Bocah Angon palsu akan bermunculan di Jawa ini.
Kemunculan Bocah Angon palsu bisa jadi karena dukungan orang lain akan
dirinya sehingga dipaksa cocok menjadi Ratu Adil, tetapi juga bisa jadi
karena terburu-buru meyakini dirinyalah si Bocah Angon.
Lihatlah saat ini telah banyak terdengar
dimana-mana dari Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, orang-orang
yang muncul diyakini sebagai Ratu Adil. Bahkan juga bermunculan
dimana-mana orang yang mengakui dirinyalah Ratu Adil tersebut. Apabila
dimintai bukti maka orang-orang tersebut akan mencocok-cocokkan diri
dengan naskah-naskah yang ada untuk meyakinkan orang. Padahal kenyataan
tidak semuanya cocok.
Untuk itulah Siliwangi berpesan agar kita
mencari Ratu Adil sejati, karena Ratu Adil sejati hanya satu sementara
Ratu Adil palsu banyak sekali. Walaupun banyak Ratu Adil palsu, hal itu
tidak akan mengubah kepastian munculnya yang asli. Apabila yang asli
telah muncul maka semua akan terbukti mana yang asli dan mana yang palsu
sesuai kata Siliwangi “Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.”
Demikianlah beberapa hal mengenai Bocah
Angon sesuai yang disebutkan dalam naskah Ugo Wangsit Siliwangi.
Siliwangi sengaja tidak begitu jelas menggambarkan si Bocah Angon dalam
naskahnya sehingga sangat menyulitkan kita untuk menemukannya.
Kesengajaan ini dimengerti karena memang akan banyak pihak-pihak yang
tentunya menghalangi kemunculan Ratu Adil dengan berbagai alasannya.
Pada saat Siliwangi tidak memberikan
gambaran yang jelas mengenai Bocah Angon. Di waktu yang sama pula kita
disuruh untuk mencari si Bocah Angon tersebut, memangnya kita ini
terlahir sebagai detektif semua. Namun yang pasti kelak akan diketahui juga mana Ratu Adil palsu dan mana Ratu Adil yang sejati
tentunya setelah tiba waktu kemunculannya. Untuk itu baik ditunggu,
dicari maupun tidak sama sekali sepertinya hasilnya tetap sama. Waktunya
akan segera tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar